H-2



*Dua hari menjelang hari-H*

Aku tertunduk diantara kerumunan orang. Wajah lelah karna menunggu dan mata sayu karna rasa kantuk yang mendera. Itulah yang aku baca dari garis wajah mereka. Pun pada wajahku sendiri. Tak ada satupun letupa. Tak  ada suara lantan semangat. Tak ada canda tawa. Semua diam. Bisu. Menikmatai detik kesunyian yang mengisi waktu mereka. 

Hanya satu yang membuat mata mereka berpaling atau sedikit tersadar dari rasa kantuk. KERETA.

Sama halnya denganku. Aku merasa apa yang mereka rasa. Duduk, diam, menikmati suasana. Hanya saja, aku memutuskan untuk mmengangkat pena dan menorehkannya pada lembaran putih agar menjadi makna. Cerita. 

-Dua hari menjelang hari-H-

Rasa ini masih sama. Takut, gelisah, tak elera. Aku berselera. Aku seperti hendak berlari dari mimpiku. Mimpi yang seharusnya indah seperti keinginanku.

Angin yang berhembus pelan membuat kekhusu’anku menulis kian tajam. Tak ku perdulikan deryait kursi sebelah yang kian kencang oleh beban di atasnya. Tak perduli banyak orang berlalu lalang sembari menatapku heran. Tak perduli suara Hp terus menggoda kosentrasiku. Yang ada di benakku hanya satu. Menulis. Dengan ini aku merasa mampu keluar dari kehidupan nyataku. Menciptakan hidup seperti di alam mimpiku. Meski hanya lewat sebuah coretan tak bernyawa.

Pukul 00.00. aku meninggalkan jum’at berkahku. Ini artinya selangkah lagi aku akan berada di dalam kereta itu. Kereta yang akan mengantarkanku menuju alam nyata yang tak ingin ku jalani. Mampukah aku?

_Mrs. Dy

-'hanya' Catatan Kecil-



Mengapa Alloh menciptakan perbedaan kasta dan derajat manusia dimata sesama?
Hari ini saya terus melihat manusia-manusia hebat itu. Ia berjuang melawan arus keras kehidupan. Sepanjang jalan menuju stasiun, mata saya tak berhenti menemui manusia-manusia super itu. Super? Yah, menurut saya merekalah sosok pahlawan yang sebenarnya. Sosok pahlawan yang pergi mencari sesuap nasi untuk orang-orang yang dicintainya. Entahlah. Apa dia sempat memikirkan dirinya sendiri. 

Mengapa ada kasta dalam hidup? Sepenting itukah harta dimata manusia?

Manusia super itu berjalan tertatih mendorong gerobak sampah miliknya. Ia tampak bersimbah peluh dan berselimut lelah. Mata ini tak tega melihat pemandangan itu. Detak jam yang menunjukkan tengah malam, namun mereka masih semangat mengais rezeki. Subhanalloh.

Pemandangan kedua yang saya saksikan yakni manaka la tepat berada di sebuah stasiun sembari menunggu kedatangan kreta yang delay satu jam. Saya kembali meliat manusia super di sana. Adalah penjaga peron yang berebut membantu penumpang hanya dengan upah Rp. 20.000,- perhari. Masyaalloh.

Saya ingin menangis sejadinya. Ingin berteriak sekencangnya. 

Alloh! Mengapa Engkau meciptakan batas pada hamba-hamba yang Engkau ciptakan. Mengapa ada si miskin dan si kaya. Batas itu terlihat sangat nyata Alloh. 

Saya tak tega melihatnya. Memilih untuk berpaling dan memejamkan mata. Saya malu pada diri sendiri yang masih selalu merasa kurang. 

Alloh, maafkan hamba ini. 

Kreta mulai berdatangan. Petugas peron mulai berhamburan menyerbu penumpang untuk menjajakan tenaganya mengangkat barang bawaan. Lagi-lagi saya termenung dibuatnya. 

Sosok itu, dari sekian banyak petugas peron yang berhamburan. Lelaki renta yang tampak lelah, bersandar pada tiang tangga yang difungsikan untuk penumpang naik ke atas kreta. Tubuhnya yang kecil dan matanya yang sayu membuat saya hanyut lebih dalam. Hati ini mengiba dengan sangat. 

Alloh, tolong muliakan kehidupan mereka. amin


_Mrs. Dy

H-3



Aku punya mimpi. Mimpi yang begitu sederhana. Mimpi yang menjadi doa dalam setiap sujud. Mimpi yang hanya mimpi. Aku terjebak dalam mimpiku sendiri.

*Tiga hari menjelang hari-H*

Aku merutuk diri sendiri. Menutup duka dalam tawa. Menghapus senyum lewat canda. Apa aku harus melakukannya?

Masih hening. Dini hari ini begitu dingin. Udara malam menyeruak dari bilik-bilik jendela kamar yang ku biarkan terbuka. Rintik hujan masih menetes di riak-riak atap. Suaranya melengking membuat alunanya sendiri. Langit tumpah ruah oleh tangis. Bumi terasa penuh oleh triakan hujan. Ia bersedih. Samakah kita?

Mataku tak bisa terpejam. Entah untuk berapa malam. Tak tau harus melakukan apa. Hanya berjalan kesana kemari tanpa suara. Membisu. Menyatu dengan perihnya hari. Menatap pada getir langit yang pekat. Tidakkah kau gusar wahai langit? Aku mengamatimu terlalu dekat.

Pada bulir hujan yang menetes beraturan. Bisakah temani aku sejenak? Aku begitu ketakutan. Aku tak tau kemana harus kulangkahkan kaki ini. Seperti di padang gersang. Aku kehilangan arah tujuan. Taukah?

Kemana ku benamkan lara ini. Sedang tak satupun bisa mengerti. Ah, aku bahkan sendiri. Aku benar-benar sendiri. Kemana mereka?

Waktu begitu cepat merambat. Bayang mentari menyelinap di arah timur. Membuatku semakin ketakutan. Hari apakah ini? Mengapa begitu cepat berganti?

Rintik hujan perlahan menghilang. Hanya tersisa basah yang menyisakan aroma hujan. Aku menyukainya. Aroma itu menusuk rongga hidungku. Bersih. Bau yang khas membawa damai. Sejenak aku terlupa bebanku. Lebih tepatnya sengaja menanggalkannya. Aku rindu aroma ini. Hujan. Aku merindukan mimpiku.

_Mrs. Dy

-Third Month-

Happy Anniversary...

Bulan ketiga sudah berjalan. Menyenangkan. 

Teringat saat pagi tadi ku bingkai namamu dalam doaku : "Bahkan waktu terlalu singkat untuk menjalani waktu bersamamu. Sungguh ini diluar dugaanku. Kau datang, kau di sini, kau nyata. Bahkan tak pernah ku bayangkan sebelumnya".

Perkenalan kita. Saat yang dulu terasa begitu biasa. Perjumpaan setelahnya yang masih terasa sama. Hingga kau datang lagi dengan menawarkan rasa yang bertajuk -Cinta-. Begitu singkat. 

Dan sayang, aku bahagia ketika kau selalu berkata : "Berjumpa denganmu, walau telah lama kita bersama akan selalu terasa berbeda setiap harinya. Aku mengenal kamu yang baru setiap harinya".

Ingatkah lagu yang pernah kau alunkan saat itu (Lagunya dibawah)? Sungguh. Aku tak bosan mengingatnya. Terimakasih untuk kamu yang selalu sabar mendampingiku. HAPPY WED- ANNIVERSARY.

BE MY LADY

Since I've known you babe
Semenjak aku mengenalmu, kasih
 
You were a light for me
Engkau tlah jadi cahaya bagiku
But taste of your sincerity
Tapi selera ketulusanmu
Build me a world to believe
Membangun dunia tuk diyakini

But still there’s a doubt
Tapi tetap saja ada keraguan
In you for loving me
Dalam dirimu untuk mencintaiku
Though deep down inside
Meskipun di lubuk hatimu

You see what’s in me
Kau lihat apa yang ada dalam diriku

Be My Lady
Jadilah perempuanku, 
Be the one
Jadilah kekasihku
And great things will come to our heart 
Dan hal-hal hebat kan datang ke hati kita
You're My Lady
Engkau perempuanku,
You’re my one
 Engkau kekasihku
Give me chance to show you love
Beri aku kesempatan tuk tunjukkan cinta kepadamu

Masih -Hari Kemarin-



“Saya masih ingin sekolah! Saya masih ingin senang-senang! Masih ingin ini dan itu!”

Begitulah. Seperti itu dulu saya berpikir. Dunia terlalu cepat untuk saya berkembang. Tumbuh dan besar. 

Rasanya, baru hari kemarin saya menikmati masa taman kanak-kanak. Bermain ayunan dengan teman-teman, bergelanyut manja di punggung ibu, dan minta ini itu dengan rengekan dan tangisan. Sudah biasa! Sejak kecil saya memang terkenal cengeng dan manja. 

Masih di hari kemarin, saya menginjakkan kaki di bangku sekolah yang bernama Sekolah Dasar. Disana saya belajar membaca dengan lancar, berhitung dan mengaji. “Alif, Ba’, Ta’, Tsa’, Jim….” Begitu guru agama saya mengeja lafal demi lafal yang sekarang mulai terbiasa saya kecap dan baca. Rasa syukur membuncah di hati saya. Saya bangga dengan guru-guru saya. Mereka membuat saya kaya akan ilmu. Pandai ilmu umum dan pandai mengaji.

Lain cerita dengan hari kemarin saat saya mengenakan baju seragam putih dan biru. Masa itu saya duduk di sebuah Madrasah Tsanawiah, bukan Sekolah Menengah Pertama seperti kakak dan adik. Entahlah. Saya memang beda. Saya selalu berbuat sesuai nurani saya. Tentunya atas dorongan Ibu saya. Tapi lihatlah. Itu yang membuat saya bisa tahu sedikit banyak tentang agama. Minimal saya bisa menularkannya kepada orang di sekitar saya. Menyenangkan!

Masih di hari kemarin, saat usia saya 16 tahun, masuklah saya di sebuah Sekolah Menengah Kejuruan di kota saya. Jangan salah! meski hanya sebuah sekolah kejuruan, itu merupakan sekolah kejuruan negeri favorit di tempat saya.  Saya belajar banyak di sana. Salah satunya tentang kewirausahaan, kemandirian dan kerja produktif. Ya, karena memang sekolah kejuruan di peruntukkan untuk mencetak pribadi siap kerja di perusahaan-perusahaan negeri maupun swasta. Setidaknnya, saya bisa mendapat ilmu lebih, baik ilmu teoritik maupun ilmu terapan dan produktif. Ilmu-ilmu itu yang membuat saya memiliki skill baik di dunia kerja. Seperti saat ini.

Di hari kemarin, saya bukan anak cerdas apalagi pintar. Saya hanya beruntung! Sekali lagi saya tekankan, saya hanya beruntung. “just lucky!” kalau kata orang barat.

Setelah di hari kemarin selama tiga tahun saya belajar dan menyerap ilmu secukupnya di kejuruan, saya bertekad masuk di salah satu universitas negeri. Apa mungkin? Sedangkan ilmu IPA atau IPS tidak pernah secara lengkap saya dapatkan. Paling hanya pengantar yang membuat saya jengah mendengarkan dan memilih bermain dengan teman sebangku atau terkantuk-kantuk sendiri di balik buku yang saya biarkan tegak berdiri. Apa bisa saya lolos kalau nilai saya tidak bisa dikatakan baik pada dua pelajaran itu. Apa mungkin saya lolos dengan hanya bermodalkan tumpukan buku yang hampir setiap hari habis saya pelajari. Apa mungkin saya lolos jika ternyata dua pelajaran itu merupakan disiplin ilmu yang wajib dan sangat menentukan. Apa mungkin? Ah, terlalu banyak kata itu bermain di memori saya. Kata hati mengatakan tak mungkin. Namun semangat Ibu yang meletup-letup menemani saya tak tidur hingga dini hari demi munajad doa-doannya. Motivasi Ibu yang selalu berkata saya anak paling cerdas dan pintar yang sangat Ibu cintai. Kata-kata Ibu yang selalu terngiang di telinga saya bahwa Ibu akan bangga jika saya bisa lolos. Hanya itu yang membuat saya ingin mencoba. Yaaa, apapun hasilnya. Saya telah berusaha dan Tuhan yang menilai layak atau tak layak nantinya.

Masih di hari kemarin. Saat saya membuka situs universitas tersebut lewat internet. Lagi dan lagi saya tekankan saya hanya beruntung. Saya lolos semua seleksi perguruan negeri yang saya daftar. Saya tinggal memilih, menetapkan, memantapkan. Alhamdulillah.

Alloh sayang. Alloh cinta. Mungkin bukan hanya dengan saya. Namun pada Ibu yang selalu menyebut nama saya dalam doanya. Lahaulaa Walaa Quwwataa Illa Billah..

Jejak hari kemarin benar-benar masih terasa. Ketika pertama kali saya merasakan kebebasan menjadi seorang mahasiswa. Meraup lebih banyak ilmu. Menerapkannya dan tiga tahun tujuh bulan saya berhasil melewati masa itu. Masa yang panjang, namun begitu singkat dalam ingatan. Sangat singkat! Seperti ketika nafas dalam setiap detik terbuang. Seperti itu. Hidup yang berlalu tak pernah lagi akan kembali. Hari kemarin akan tetap menjadi hari kemarin. Bersyukur saya masih memiliki memory untuk mengingat. Merasakan setiap detik yang dulu menjadi bagian hidup saya. Dan dihari-hari berikutnya saya yakin akan indah. Tentu saja! Karena Alloh selalu memiliki rencana indah dibalik doa dan harapan hambanya. Termasuk saya.

Letter to my Srikandi -Mommy-



To : Mamma

Sudah lama ananda ingin menuliskan surat cinta ini untuk mama. Surat yang tak pernah bisa ananda selesaikan. Karena cinta mama yang terlalu besar untuk ananda. Ananda tak mampu menuliskannya mama. Tapi kali ini, ananda coba untuk memulai menuangkan isi hati ananda. 

Mama sayang..

Sungguh. Akan ada banyak kata ‘maaf’yang akan ananda tulis dalam setiap baris surat ini. Maka tolong ampuni ananda sebagai putri yang banyak membuat hati mama kecewa atas sikap ananda. Maafkan ma..

Ananda tau, mama selalu membanggakan ananda di hadapan teman mama, kerabat mama, kenalan mama, bahkan disetiap tempat mama bekerja. Ananda sadar, hanya ananda yang mama harapkan menjadi penguat dan pengharum nama keluarga. Terimakasih mama.. Karena penghargaan yang mama berikan jauh lebih berarti dari apapun di dunia ini. Terimakasih telah menjadi ibu terbaik di kehidupan ananda.

Mama Srikandi Keluarga.

Begitu selalu ananda bilang kepada siapapun tentang sosok mama. Mama memang bukan seorang ibu yang selalu mendampingi ananda. Namun cukup atas perjuangan dan pengorbanan mama. Mama buktikan bahwa bidadari tanpa sayap itu memang ada. Mama adalah harga mati dalam setiap hela nafaas ananda. Mama segalanya bagi ananda.

Taukah ma, hati ananda sakit meski mama disana tersenyum bercerita banyak hal dengan ananda. Hati ananda sakit karena mama bekerja, banting tulang untuk kami putra putri mama. Namun mama menutupi lelah dan kerapuhan mama.

Ananda sungguh ingin memeluk mama. Mencium punggung tangan mama. Bersimpuh di kaki mama atas kesalahan dan kenakalan ananda.

Ananda ingin mengucap beribu maaf atas kesalahan yang ananda lakukan kepada mama. Maafkan ananda ma..

Jauh dilubuk hati, ananda tak pernah ingin menyakiti hati mama. Ananda selalu ingin menjadi kebanggaan mama. Tak ingin setiap tetes keringat yang terjatuh di kening mama menjadi sia-sia untuk mama. Ananda tak ingin mengecewakan mama. Tak ingin menjadi penghianat. Apapun alasannya ma, ananda ingin menjadi penghangat di sisa usia mama.

Taukah ma, hati ananda sakit manakala mama jauh dari jangkauan mata ananda. Ananda tau ma, mama menyimpan beribu luka dihati mama. Mungkin mama bisa tersenyum. Namun apa hati mama ikut bersenyum?

Saat ananda merayakan moment-moment besar dalam hidup ananda. Mama selalu hadir memberi secangkir semangat dan beribu doa untuk ananda. Tentu saja. Mama selalu tersenyum di tempat yang jauh di sana. Tak sedikitpun terlukis kesedihan dalam gema suara yang memantul di telinga ananda saat kita berbincang. Yang ada, kata-kata mama yang selalu berucap “mama bangga!”. Adakah hal lain yang sebenarnya mama inginkan saat itu? Suah pasti. Itu tentang kehadiran mama di hari-hari besar kehidupan ananda.

Saat ananda mendapat gelar sarjana dan dinobatkan sebagai lulusan terbaik dan tercepat, ananda tau persis mama ingin ada di sisi ananda. Taukah ma, orang pertama yang ingin ananda peluk adalah mama. Ananda ingin mengucap beribu rasa terimakasih ananda atas apa yang telah mama korbankan untuk ananda. Ananda ingin menghamburkan kebahagiaan ini dengan mama. Tapi mama tak ada. Ananda hanya bisa memandang foto mama dan berucap terimakasih dalam sujud syukur ananda. Setidaknya, Tuhan akan membawa syukur ananda kepada mama di sana.

Sedih? Tentu ananda rasakan. Seandainya ananda bisa berteriak, ananda ingin menyebut nama mama saat ananda mendapat gelar itu. Sungguh ma. Ananda bukan apa-apa jika tak ada mama. Ananda tak berarti tanpa doa mama. Ananda tak bisa seperti sekarang tanpa secangkir semangat yang selalu mama sajikan untuk ananda. Mama adalah ibu yang sempurna.

Mama yang berjiwa besar. Bukankah kita bukan apa-apa di dunia ini? Itu yang ananda rasakan saat ini ma. Bahwa kekayaan dan uang bukanlah hal utama dalam hidup. Kebersamaan adalah kebahagiaan yang tak ternilai harganya. Ananda selalu ingat pesan mama. Ananda mencoba mencari kebahagiaan dalam kebersamaan dimanapun ananda berada.

Sulit mama. Ananda masih mencari arti bahagia itu sendiri. Tak jarang ananda merasa begitu kesepian dan sendiri. Ananda rindu mama. Ananda takut anda tak lagi bisa bersua dengan mama. Ananda takut kehilangan mama.  

Saat ananda wisuda, orang yang paling tak bersemangat hadir adalah ananda. Harusnya ananda bahagia. Ananda tau itu. Mama tak berhenti berbahagia untuk ananda. Mama tak berhenti mengucap syukur atas pendidikan yang ananda selesaikan dengan sempurna. Mama siarkan berita kesuksesan ananda kepada teman-teman mama. Mama seolah bermain dengan kebahagiaan mama sendiri. Ananda hanya bisa tersenyum melihat tingkah mama.

Mama.. Melihat mama bersemangat seperti itu, hati ananda tenang dan ikut berbahagia untuk mama. Jadi tetaplah seceria itu ma.. Karena ananda kosong tanpa kebahagiaan mama. Trimakasih ma..

Saat ananda menikah, ananda tau mama sangat kecewa dengan keputusan ananda. Sudah pasti mama ingin mendampingi ananda di hari yang sakral itu. Maafkan mama. Bukan ananda tak sabar. Ada banyak hal dibalik keputusan ananda. Ananda hanya tak ingin sesuatu yang buruk terjadi dalam keluarga kita manakala ananda tak segera menghalalkan hubungan ini. Sungguh syaitan itu nyata ma. Sangat dekat dengan kehidupan ini. Ananda takut salah ma. Ananda takut berbuat salah.

Maka maaf jika ananda telah membuat hati mama kecewa. Ananda sungguh harus melakukannya ma. Ananda tak ingin lebih lama mengotori agama ananda. Sudah terlalu banyak dosa yang ananda lakukan. Ananda tak mungkin mempertahankannya lebih lama lagi. Ananda mohon restu mama..

Hari itu. Hari dimana ananda menikah. Tak ada kesakralan yang ananda rasakan. Jauh dari pernikahan yang ananda inginkan. Ananda kehilangan selera bahkan keberanian untuk menangis. Yang ada di fikiran ananda hanya bagaimana ananda harus bersikap pada mama setelah ini.

Apakah tak ada kata maaf yang terbuka di hati mama?

Apakah mama meridhoi kami seutuhnya?

Ananda takut ma.. Akan ada hukuman untuk ananda manakala mama sakit hati atas kelakuan ananda. Maaf mama. Tak sedikitpun niat ananda melakukan itu. Ananda tetap anak mama yang ingin selalu berbakti terhadap mama.

Tapi terimakasih ma. Terimakasih telah mau berbesar hati untuk ananda. Terimakasih mama relakan ananda menikah di bawah tangan papa yang sekian lama tak bersua dengan ananda. Terimakasih ma..

Dan terimakasih telah menerima suami ananda dan menganggapnya seperti putra mama sendiri. Meski mama belum pernah bersua langsung dengannya, percayalah ma. Dia lelaki terbaik untuk hidup ananda. Dia penjaga dan pemilik hati ananda. Dan ananda begitu mencintainya.

Maaf ma.. Bukan berarti cinta ananda terhadap mama terhapuskan ataupun tebagi. Sama sekali tidak ma. Ananda tetap putri mama yang amat mencintai mama. Cinta ananda terhadap suami memiliki porsi berbeda. Kalian bagai puzzle dalam hidup ananda. Ananda tak ingin kehilangan atau memilih satu diantara kalian.

Dan mama, dia sosok penjaga yang tak pernah ananda bayangkan sebelumnya. Dia bahkan lebih mencintai keluarga dibanding harta dan pekerjaannya. Mama tersayang, bukankah ananda tak salah memilih pasangan hidup?

Dan kini, setelah ananda menikah, ananda mulai terbiasa dengan nafasnya. Dengan keberadaannya. Ananda terbiasa dengan kebersamaan ananda dengannya. Ananda merasa bersalah ma.

Mungkin ananda terlalu kecil untuk menjadi seorang istri. Ananda tak mengerti bagaimana caranya “melayani”. Kesibukan ananda dan ego ananda, terkadang membuat ananda tak mengerti bagaimana harus bersikap. Ananda tak sesempurna istri-istri lain di luar sana ma. Seperti yang mama tahu, ananda tak bisa memasak. Ananda hanya mampu menyajikan minuman hangat setiap kami berjumpa. Ananda tak mengerti bagaimana mengungkap rasa rindu ananda manakala kami lama tak bersua. Ananda hanya tak ingin menjadi istri penuntut yang ingin ini dan itu. Karena ananda sendiri tak bisa ini dan itu.

Maafkan jika ananda bercerita seperti ini ma. Ananda hanya ingin berbagi rasa.

Taukah ma, hari ini ananda tejebak dalam satu pilihan. Bahkan ananda sendiri tak mengerti dan tak bisa untuk memilih. Ini sangat berat ma.

Ananda sadar, manakala ananda memutuskan untuk menikah berarti ananda harus siap untuk menjadi menantu. Itu berarti ada orangtua baru di kehidupan ananda. Dengarlah ma, tak ada yang bisa menggantikan posisi mama dalam hidup ananda. Hanya saja, kali ini ananda harus bersikap tanpa mengecewakan mama ataupun mertua ananda. Namun sangat sulit ma..

Sekali lagi, ananda sangat berterimakasih mama telah berbesar hati menikahkan ananda sebelum mama pulang ke Indonesia. Dan kali ini, haruskah mama kecewa untuk kedua kalinya? Bersediakah mama berbesar hati lagi? Sungguh mama, ananda tak ingin menjadi anak yang durhaka kepada mama. Ananda tak ingin mama menangis lagi atas sikap ananda..

Namun bagaimana ananda harus bersikap? Dilain pihak mertua ananda mendesak untuk segera memeriahkan pernikahan kami.

Ananda tau persis perasaan mama. Ananda yakin mama tak ingin putri mama duduk sendiri di pelaminan tanpa kehadiran mama. Mama.. ananda tak kuasa melakukannya! Ananda tak ingin melakukannya! Sungguh! Ananda ingin menunggu mama pulang. Ananda juga tak ingin seperti putri tanpa orangtua. Ananda ingin mama ada. Sungguh ananda tak ingin melakukannya. Ananda tak ingin menghancurkan hati mama.

Mama tolong.. Tolong bantu ananda. Tolong beri ananda jalan keluar. Ananda tak bisa membendung ini sendiri. Ananda ingin lari. Ananda ingin pergi. Ananda ingin ikut mama. Ananda ingin menghindar dari masalah ini..

Tapi ananda tak bisa ma..

Ananda harus hadapi semuanya. Dan lagi, sekarang ananda memiliki suami. Ananda harus menurut apa kata suami ananda. Jadi tolong beri ananda restu. Tanpa mama ananda hancur. Tanpa mama ananda tak berarti. Tolong mama.. Tolong beri ananda jawaban atas kepayahan sikap ananda. Ananda tak tau lagi pada siapa harus mengadu. Ananda tak punya kendali mama. Ananda hanya bisa mematuhi suami ananda.

Mama ampuni ananda. Mama ampuni ananda. Mama ampuni ananda..Mama maafkan keputusan ananda..

up