Cerpen: Rembulan, Draft dan Secangkir Hot Coffe


“Biar bagaimanapun Ara butuh restu Papa, Ma”.
“Nggak!! Mama nggak mau kamu terus-terusan ungkit dia dikehidupan kamu. Kamu cukup punya Mama dan kamu bisa jadikan Rama untuk jadi wali kamu nanti!”
“Tapi ma....”
“Pokoknya Mama nggak mau denger apa-apa lagi soal plan kamu itu. Terserah saja! Kamu mau nurut Mama atau tetap pada pendirian kamu itu,”
Tutt..tuuutt...Tutttt.....
---
Aku termenung didepan meja kerjaku. Menatap hampa ke atas singgasana langit malam. Beberapa hari ini memang topik pertengkaranku dengan Mama hanya berakar pada satu permasalahan. Pernikahan. Aku memang tidak berniat untuk menikah muda atau mendahului kakak perempuanku, tapi apa salah jika aku telah merencanakannya? Terlebih jika yang aku inginkan hanya sebatas kehadiran seorang Papa yang bertahun-tahun menghilang dari kehidupanku. Sosok lelaki yang seolah menepiskan takdirnya bahwa dia telah mengirim nafas baru dikehidupan kami. Aku, Kak Swari dan Adekku, Rama. 

Pandanganku masih tertuju pada dinding langit yang begitu terlihat cerah dari biasanya. Memang sangat jarang melihat langit secerah ini di musim penghujan. Biasanya, aku harus beradu dengan suara hujan ketika mendengarkan lantunan musik sambil menyelesaikan pekerjaanku. Kulemparkan pandanganku ke sekeliling halaman. Mengintip keluar jendela kamar. Dingin. Kabut tipis mulai turun menyelimuti rimbunnya pepohonan dihalaman rumahku, mengisyaratkan bahwa malam telah berganti pagi. Nyala api ditungku perapian pun mulai padam. Cahayanya berpendar kecil, namun cukup terang untuk ruang yang kuhuni. Sebuah kamar 3x4 yang hampir tiga tahun ini menjadi basecame utamaku.

Secangkir Hot Coffe masih setia berlenggang di jemari kananku yang mulai terasa dingin. Dengan terampil tangan kiriku membantu mengaduk adonan kopi instan itu. ku rapatkan tubuh ini diantara dinding sofa kecil yang menghimpitku dengan kedua kaki menopang pada batas kursi dibawahku. Rembulan mengintip di ufuk sana. Ia tersenyum manja di teras langit yang bersih, bak permadani gemerlap penuh bintang. Apa yang membuatmu tersenyum se-ikhlas itu?

Kulirik setumpuk draft kerja yang sedaritadi tercecer menunggu untuk ku jamah. Masih tak bergeming untuk menyentuhnya, hanya menatap sejenak tanpa selera. Mungkin aku mulai jenuh dengan pekerjanku. Deadline yang menumpuk dan pesiapan S2 yang membuat fikiranku tepecah belah semakin membuatku tak fokus dengan masa depanku. Terlebih memikirkan dengan serius untuk menjalani biduk Rumah Tangga. Teman-teman bilang aku seorang gadis yang gila karir. Untuk sekedar memiliki teman kencanpun aku masih harus berfikir seribu kali. Takut aktivitasku terbatas, malas diperhatikan, belum ada kesiapan, dan bla bla balaa, itu yang selalu aku jadikan alasan status ‘Single’ ku.

Namun jangan dikira aku tak merencanakan hal itu. keinginanku untuk hidup berumah tangga seperti yang lainnya juga tak jarang aku rancang sedemikian rupa. “Ntar juga ada waktunya,” paparku cuek ketika berkumpul dengan rekan kerjaku. Expresi mereka pun beragam. Sebagian ada yang berdecak heran, ikut bersikap cuek, mengiyakan bahkan ada yang melontarkan pertanyaan gila. “Are you straight?,” yang kemudian ku jawab dengan candaan “may be”. Tawa pun berderai diikuti tangan-tangan usil mereka mencubit pipi bakpau ku.

Diantara yang lain, aku memang karyawan termuda dengan prestasi yang cukup pesat. 24 Tahun. Terbukti dengan kejadian minggu lalu yang membuatku bersujud mengucap syukur atas rizki-Nya. Aku dipromosikan sebagai Manager Public Relations Officer dan mendapat kesempatan untuk melanjutkan study ku di salah satu Universitas ternama di kota Industri ini. Rencana Tuhan memang selalu indah, tak jarang aku menginginkan sesuatu yang tak bisa aku raih. Namun Tuhan selalu memberiku lebih bahkan jauh diluar dugaanku. 

“Just Lucky!,” kalimat yang selalu aku lontarkan kepada rekan kerja yang turut mengapresiasi karier dan studiku. Gelar ‘Exsekutif Muda’ pun melekat pada namaku. Mungkin bisa dikatakan aku cukup sukses untuk meraih satu mimpiku. “Membuat Mama Bangga!!”. Sebuah mimpi yang selalu menjadi doa dan motivasi di kehidupanku. Mimpi untuk mengangkat derajat Mama, Kakak dan Adekku. Yaa, Siapa yang tak bangga, usiaku yang masih terbilang muda dengan segudang prestasi dan karir yang terus melejit benar-benar membuktikan bahwa mimpi tak sekedar mimpi jika usaha dan doa terus diupayakan.

Masih terdiam. Mencoba mengeja kata lewat suara, namun tak seorangpun menemaniku. Mencoba mengeja kata lewat pena, namun hati berkata itu tak akan bisa mengurangi beban hatiku. Sejenak, kembali teringat ucapan Mama pagi tadi. Pernyataan yang sebenarnya hanya jawaban atas pertanyaan singkat Mama. Rekaman itu pun kembali berputar.

”Kapan kamu mulai berfikir untuk menikah Ra?,”
 “Nanti ada waktunya Ma,” jawabku singkat. Mama pun tersenyum.
“Emmm, tapi tekad Ara sudah bulat Ma, Ara ingin Papa diundang untuk jadi wali Ara nanti,”. Lanjutku. Mama mulai mendengus kesal, tak segera menjawab.
“Biar bagaimanapun Ara butuh restu Papa, Ma”. Ujarku lagi, seolah meminta pengertian dari Mama di sebrang telp. sana.  
“Nggak Ra! Mama nggak mau Kamu terus-terusan ungkit dia dikehidupan kamu. Kamu cukup punya Mama dan kamu bisa jadikan Rama untuk jadi wali Kamu nanti!”
“Tapi ma....”
“Pokoknya Mama nggak mau denger apa-apa lagi soal plan kamu itu. Terserah saja! Kamu mau nurut Mama atau tetap pada pendirian kamu itu,”
Tutt..tuuutt...Tutttt.....
---
Huuufffh.. Aku mendesah pelan, “Apa yang membuat Mama sekeras itu?,“ bibirku tak lagi mampu menahan garis besar pertanyaanku. “Bahkan hanya sekedar untuk meminta restunya? Lantas bagaimana aku di depan pasangan hidupku nanti? Bagaimana aku dimata keluarganya? Bukankah suatu keharusan jika memang dia masih ada di Dunia? Menjadi Wali pernikahan, hanya itu!! Apakah terlalu berat? Apakah pantas dia dihukum terlalu berat seperti itu? Bukankah suatu kebahagiaan juga ketika dia melihat putrinya yang dulu hanya seorang gadis kecil kini menjadi putri yang akan dipersunting oleh orang asing...” Jemariku tak lagi kaku untuk menuliskan rangkaian pertanyaan yang sedari tadi kupendam dalam diam. “Apa aku salah Ma, menginginkan keluarga yang utuh dihari istimewa yang akan aku ikrarkan sekali seumur hidupku?,” tiba-tiba jemariku terhenti menulis pertanyaan terakhirku. Tenagaku hilang oleh kristal-kristal kecil di sudut mata yang perlahan mulai mencair. Membasahi sebagian catatan kecilku. Menangis dalam doa yang tertambat.

Kembali kutatap rembulan yang tersenyum ramah. “mengapa masih saja tersenyum?”. kulirik foto Mama yang tergantung di dinding kamarku. Kunikmati setiap inci wajah ayu yang semakin rupawan dengan senyum dibibirnya. Benar-benar cantik! Wajah wanita pejuang kehidupanku. Bagaimana mungkin aku bisa membantah apa katamu Ma. Namun, apa sudah tak ada kemungkinan untuk aku mewujudkan sebagian harapanku? Ku nanti keputusan bijak mu Ma..

Aku tersenyum, mendekat kearah foto itu. Seolah raganya berada dekat di depan mataku. Ku usap lembut wajahnya. Ku kecup hangat dahinya. Mama, siapapun lelaki yang mendampingi hidup Ara nanti, Ara harap dia memang pilihan hati Mama. Jangan biarkan Ara jatuh ketangan orang yang salah Ma. Ara pasrahkan pada Mama. Karna Mama yang merawat Ara dari kecil, dan Mama yang selalu memberi yang terbaik untuk Ara. Kalau memang Mama tak berkenan Papa hadir saat Ara menjadi pengantin nanti, Ara ikuti kemauan Mama. Asal Mama tersenyum dan bersenyum untuk hidup Ara kedepannya. Ara ikhlaskan Ma..

Jam di kamarku menunjukkan pukul 03.00 WIB. Rembulan masih tersenyum pada posisi yang sama. Coffe di cangkirku telah ku santap tak bersisa. Ku putuskan untuk menyelesaikan Draft yang sedari tadi menanti untuk ku jamah. Biar bagaimanapun lembaran Draft ini adalah masa depanku. Ku pejamkan mata ini seketika. Mencoba berbisik pada sudut dalam hatiku. Ara tak ingin menyakitimu lagi Ma. Sampai kapanpun, Mama alasan Ara untuk hidup. Maka tersenyumlah untuk kehidupan Ara. Seperti Rembulan itu, dia menawarkan senyum yang ikhlas saat malam menjelang. Seperti Coffe itu, yang setia menemani malam saat Ara bekerja. Seperti Draft itu, yang akan mengisi hari-hari kedepan Ara. Doa Mama adalah keberkahan hidup Ara. Besok Ara janji akan hubungi Mama. Ara minta maaf Ma.  

Dan hari ini, aku belajar untuk ‘Dewasa’. Menjadi dewasa dengan caraku sendiri, dari kehidupan yang aku jalani...

The End...

Artikel: “CoP- Be Knowledge Management”


CoP atau Community of Practice adalah suatu wadah komunikasi yang muncul saat orang-orang yang mempunyai ketertarikan yang sama dalam suatu hal berkolaborasi dalam suatu periode yang panjang untuk melakukan sharing ide, menemukan solusi, maupun membangun inovasi. CoP juga bisa dianalogikan sebagai seni orkestra. Dimana terdiri dari berbagai jenis alat musik yang berbeda, namun apabila dikolaborasikan dengan baik akan menghasilkan musik harmoni yang perfect.

Sekedar pengetahuan, CoP pertama kali dicetuskan oleh Jean Lave dan Etienne Wenger. Etienne Wenger kemudian memperluas konsep tersebut dan mengaplikasikannya untuk konteks lain, khususnya dalam hal pengembangan organisasi. Wenger mendefinisikan CoP sebagai suatu kelompok orang-orang yang saling berbagi perhatian, sekumpulan masalah, atau keminatan yang kuat terhadap suatu topik, dan memperdalam pengetahuan dan keahlian mereka dalam area tersebut dengan cara berinteraksi secara terus menerus untuk mencapai kemajuan bersama.

Kegiatan CoP tidak terlepas dari “knowledge management” atau pengelolaan pengetahuan. Pengetahuan bisa dikategorikan menjadi 3 kategori utama:

1.      Explicit Knowledge, merupakan pengetahuan yang bisa dengan “mudah” dikodifikasikan dan ditransformasikan. Pengetahuan tentang cara menjalankan suatu aplikasi komputer merupakan contoh dari pengetahuan ini.
2.      Implicit Knowledge. merupakan pengetahuan yang bisa dengan “mudah” dikodifikasikan dan ditransformasikan tetapi pihak yang mempunyai pengetahuan tersebut tidak mempunyai keinginan untuk melakukan kodifikasi dan transformasi.
3.      Tacit Knowledge, merupakan pengetahuan yang sulit untuk dikodifikasikan dan sulit untuk dilakukan transformasi ke pihak lain. Dalam istilah Michael Moranyi, pengetahuan ini merupakan jenis pengetahuan yang tertanam dalam diri seseorang melalui pendalaman dan pengalaman dan untuk lebih mudahnnya sering disebut dengan pengetahuan yang “we know more than we can tell”.
Dalam prakteknya, setiap member CoP harus berperan aktif. Hal tersebut sangat penting karena dengan partisipasi aktif member CoP, pengetahuan Tacit yang sulit dikodifikasikan dapat diperdalam dengan dasar pengetahuan eksplisit. 

Dewasa ini, seiring berkembangnya media baru kegiatan CoP tidak hanya dilakukan dengan agenda pertemuan namun lebih mengacu pada pemanfaatan teknologi yaitu internet. Ini merupakan bentuk khusus dari CoP yang memanfaatkan teknologi komunikasi dan informasi (ICT – Information and Communication Technology) untuk melakukan berbagai aktivitas dalam sharing ide, menemukan solusi, maupun membangun inovasi.

Demikian juga yang dilakukan oleh PT Djarum. PT Djarum sebagai perusahaan rokok bertaraf Internasional tidak hanya bergerak di bidang produksi barang namun juga domain knowledge. Sudah semestinya perusahaan kretek ini bisa memanfaatkan ICT untuk keperluan pengelolaan pengetahuan (knowledge management). 

Mungkin saat ini pengelolaan pengetahuan PT Djarum berada pada level pengetahuan eksplisit dimana setiap bagian Manajemen hanya mampu menuliskan hasil dari kerjanya baik dalam bentuk tulisan, angka, data dan lain sebagainya. Namun pemikiran, keahlian dan kreatifitas (dalam hal ini merupakan pengetahuan tacit), hanya bisa tersalurkan melalui sharing atau kegiatan bertukar ide satu sama lain. Disinilah kegiatan CoP diperlukan. 

Dalam perkembangannya, CoP PT Djarum khususnya site Kudus, yang lahir dengan nama “Iwak Peyek” harus lebih memperhatikan Aspek Teknis dan Non Teknis agar kedepannya CoP “Iwak Peyek” dapat menjadi kegiatan berkesinambungan. Adapun kedua aspek tersebut adalah :
a.       Aspek Teknis
Aspek ini lebih mengacu pada media komunikasi yang digunakan sebagai proses sharing antar berbagai pihak Manajemen baik berupa internet maupun intranet. Jika CoP yang dilakukan hanya sebatas pada satu site perusahaan maka media Intranet cukup memadai. Intranet adalah sebuah jaringan privat (private network) yang menggunakan protokol-protokol Internet (TCP/IP) untuk membagi informasi rahasia perusahaan atau operasi dalam perusahaan tersebut kepada karyawannya. Istilah intranet hanya merujuk kepada layanan yang terlihat, yakni situs web internal perusahaan. 
Intranet digunakan untuk membantu alat dan aplikasi, misalnya kolaborasi dalam kerja sama (untuk memfasilitasi bekerja dalam kelompok dan telekonferensi) atau direktori perusahaan yang sudah canggih, penjualan dan alat manajemen hubungan dengan pelanggan, manajemen proyek dll, untuk memajukan produktivitas. Intranet juga digunakan sebagai budaya perusahaan perubahan platform. Sebagai contoh, sejumlah besar karyawan membahas isu-isu kunci dalam aplikasi forum intranet dapat menyebabkan ide-ide baru dalam manajemen, produktivitas, kualitas, dan isu-isu perusahaan lainnya.
b.      Aspek Non Teknis
Aspek ini mengacu pada aturan-aturan yang dibentuk dalam kegiatan CoP. Aturan-aturan yang dibuat merupakan aturan yang telah disepakati bersama sehingga menjadi peraturan yang mengikat setiap anggotanya.  Untuk menerapkan konsistensi pada aturan, sikap mental harus dimiliki oleh masing-masing anggota CoP. Kemauan untuk berbagi ide, inovasi, memecahkan masalah bersama, dan bentuk-bentuk partisipasi lainnya menghendaki agar anggota-anggota komunitas mempuyai sikap mental yang baik untuk mencapai keberhasilan bersama. 

Selain itu  ACL (Access Control Lists) yang memadai juga diperlukan. Harus jelas peran-peran yang nantinya akan mengambil bagian dalam komunitas ini. Apakah setiap karyawan PT Djarum berhak menjadi member CoP atau hanya beberapa karyawan yang dipandang bisa mewakili masing-masing Manajemen yang menjadi member CoP. Hal ini penting, mengingat setiap wadah komunitas tidak akan berjalan efektif jika anggota merasa tidak dilibatkan. “sense of belonging” sangat diperlukan untuk keberlangsungan CoP itu sendiri.

Dalam agenda pertemuan CoP, pengelolaan saat pertemuan CoP juga tak kalah pentingnya. Menurut penulis dalam struktur member CoP diperlukan Tim khusus yang bertugas mengelola dan mengawasi arus pertemuan. Tim khusus ini juga menyoroti sejumlah pencapaian kolektif dan mengkaji ulang permasalahan apapun yang telah terjadi. Ini akan memberi sebuah peluang bagi para karyawan untuk menyampaikan saran bagi perbaikan kinerja dalam beroperasi.  Gaya manajemen terbuka akan sangat efektif karena setiap isu yang muncul akan dihadapi akan mendapat tanggapan langsung sehingga mendapat bimbingan kinerja yang lebih baik dan menciptakan sebuah komunitas yang lebih bahagia.

Sebuah harap di penghujung Tahun



Aku mencarimu diujung waktuku,,
Saat terjaga, terbuai dalam mimpi dan termenung dalam doa,,
Aku masih menunggumu dalam kebisuan hati,,
Siapa? Dimana? Bagaimana? Apakah ada?
Hanya bertanya dan terus bertanya akan adamu,,

Dulu, saat aku mengira orang itu adalah kamu, hanya bisa tersenyum, karna itu hanya hayalku,,
Saat aku mengucap janji bersamanya menari bersama masa depan dalam bayang,, dia juga bukan kamu,,
Saat aku merangkai mimpi bersamanya, meyakini dalam hati bahkan berharap terlalu tinggi, orang itu juga bukan kamu,,
Siapa kamu? Dimana kau berada? Bagaimana aku bisa mengenalmu? Dengan cara apa?

Jodohku...
Aku masih disini menunggu adamu,,
Kau yang ditakdirkan sebagai kidung cintaku,, menjadi imam yang akan membawaku pada masa depan yang nyata, bukan angan belaka!!
Seperti apa sosokmu?

Jodohku,,
aku lelah menantimu disini,,
Aku tak ingin lebih banyak menyakiti hati hati yang mencoba mendekat,,
Mencoba meyakini bahwa aku separuh dari jiwanya,,
Datanglah,, bawa aku pergi untuk ku jaga kesucian hati dan cinta ini,,
Tanpa kusakiti lagi hati hati yang berhati,,
Tanpa kusentuh cinta semu yang hanya mengantarkanku pada mimpi belaka,,
Datanglah,, yakinkan aku bahwa kau akan mengubah mimpi tak hanya menjadi mimpi,,
Karena aku,, aku separuh jiwa yang akan menjadi sejarah dalam hidupmu,,
Hanya dalam satu waktu!!

Pendidikan yang Aksesibel Bagi Difabel


28 Mei...
Negara mempunyai kewajiban untuk memenuhi, menghormati, dan melindungi hak pendidikan setiap warga negaranya. Hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak tanpa diskriminasi dari pihak manapun. Begitu juga dengan orang-orang berkebutuhan khusus (difabel). Dalam sektor pendidikan formal seharusnya tidak ada lagi sekat sosial yang membedakan mereka dengan masyarakat umum. Dengan begitu, orang tua bisa mendaftarkan anaknya yang berkebutuhan khusus ke sekolah umum.

Hak pendidikan bagi difabel adalah sama dengan hak pendidikan orang kebanyakan. Mereka berhak untuk bersekolah di sekolah unggulan, mengembangkan minat dan bakat yang mereka miliki. Penyediaan sarana belajar yang ramah terhadap penyandang difabilitas adalah usaha pertama yang perlu dioptimalkan realisasinya. Perguruan tinggi perlu lebih awas terhadap kebutuhan mahasiswa difabel, sehingga mereka bisa mengakses materi-materi pembelajaran dengan baik.

Aksesibilitas sistem pendidikan dapat dilihat dari dua aspek yaitu material dan non-material. Aspek material yaitu aspek yang berbentuk fisik meliputi bangunan-bangunan dan fasilitas lainnya. Sedangkan aspek non-material dapat berupa penumbuhan lingkungan yang mengerti serta mendukung aksesibilitas sistem pendidikan untuk difabel. Hal ini bisa diwujudkan melalui pengadaan Pusat Studi dan Layanan Difabel (PSLD). Pusat studi semacam ini telah ada di beberapa kampus, salah satunya di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga.

Menurut Handayani, wakil direktur PSLD UIN Sunan Kalijaga, di antara kampus lain di Indonesia, UIN Sunan Kalijaga termasuk salah satu kampus yang sudah peduli meskipun sistem pendidikannya sendiri masih belum ideal. “Sekarang ini UIN Suka masih mencoba sistem pendidikan yang aksesibel untuk mereka. Paling tidak dengan berdirinya PSLD ini ada satu unit di kampus yang mengawal terlaksananya pendidikan yang aksesibel untuk difabel,” ungkapnya.

Aksesibilitas                                                                                

Selain fasilitas, masalah lain yang perlu segera ditangani adalah perlakuan terhadap mahasiswa difabel. Penerimaan terhadap mereka bermacam-macam. ”Ada yang positif, negatif, menolak, bahkan merendahkan,” kata M. Joni Yulianto, mahasiswa difabel yang kini sekolah di National University of Singapore. “Disinilah pentingnya sebuah motivasi yang luar biasa bagi kami (difabel) untuk bertahan dalam lingkungan yang demikian. Kita harus merubah mindset negatif masyarakat yang beranggapan difabel itu lemah,” tambahnya.

Sosialisasi terhadap seluruh dosen mengenai difabelitas juga perlu diadakan. Hal ini bisa dilakukan melalui workshop serta pengadaan buku panduan cara mengajar untuk masing-masing dosen. “Perlu adanya motivasi serta perhatian dari semua dosen, jadi bukan dosen-dosen tertentu saja yang mengerti (difabel),” tutur Ambar, Sarjana Pendidikan Luar Biasa, Universitas Negeri Yogyakarta.

Setiap dari mereka ingin mendapatkan perlakuan yang adil, tidak membedakan kelasnya. Praktek pemisahan kelas ataupun lingkungan sosial tidak diperkenankan dalam sistem pendidikan.  Selain kebutuhan untuk mendapatkan wawasan yang lebih luas, hal tersebut juga dapat menghambat mereka untuk berkarya dan mengeksplorasi kemampuannya. “Mereka harus bisa hidup di masyarakat yang riil yaitu masyarakat yang plural,” tambahnya. Oleh karena itu peran serta masyarakat juga sangat penting bagi perkembangan skill mahasiswa difabel.

Kemampuan anak-anak difabel sebenarnya sama anak-anak normal lainnya. “Tinggal bagaimana kita mengupas potensi-potensi yang mereka miliki sehingga mereka bisa self eksperiment, mengembangkan serta memaksimalkan potensi-potensi yang mereka miliki,”tutur Handayani. Seyogyanya, sistem pendidikan harus bisa mengakomodir kebutuhan-kebutuhannya. “Saya berharap Adanya kebijakan kampus yang lebih merespon kebutuhan mereka serta diterapkannya sistem akademik yang lebih menghormati difabel,” pungkasnya.

Sistem Pendidikan Inklusif

Pendidikan yang inklusif (terbuka) sudah seharusnya diterapkan dalam perguruan tinggi, terutama bagi perguruan tinggi yang didalamnya terdapat mahasiswa difabel atau berkebutuhan khusus. Setiap warga negara berhak memperoleh pendidikan yang layak dan tanpa diskriminasi. Demikian diutarakan oleh Muhammad Joni Yulianto mahasiswa tuna netra yang sedang melanjutkan studi S2-nya di National University of Singapore.

Idealnya, menurut Joni, semua peserta didik termasuk difabel memperoleh sistem pendidikan yang adil. Adil disini diartikan sebagai sebuah sistem yang mampu mengakomodasi kebutuhan semua peserta didik. “Meskipun wacana untuk mengakomodasi difabel secara lebih baik melalui sistem pendidikan tinggi yang lebih ramah telah ada, namun pada prakteknya saya belum melihat ini sebagai sebuah upaya yang sistemik untuk betul-betul memberikan ruang yang adil bagi difabel,” ungkap mahasiswa yang kini aktif dalam Sasana Integrasi dan Advokasi Difabel (SIGAB).

Menurut Alumni University of Leeds, UK ini, belum ada pelayanan yang mendukung dan sistematis dari lembaga pendidikan khususnya perguruan tinggi terhadap mahasiswa difabel. Hal ini terlihat dari lemahnya aksesibilitas difabel yang sebagian orang memaknainya hanya sebatas ketersediaan teknologi seperti komputer bicara untuk tunanetra, lingkungan fisik yang memudahkan, serta bentuk akomidasi fisik lainnya. “Seharusnya aksesibilitas lebih dari itu, ia merupakan sebuah adaptasi yang dihasilkan dari sebuah sistem yang mempertimbangkan keberadaan peserta didik secara adil dengan keberbedaannya masing-masing, sehingga sistem itu bukan hanya berpihak atau mengakomodasi kelompok mayoritas saja, melainkan bersifat universal,” tegas joni.

Joni berharap, pemerintah serta penyelenggara pendidikan segera membentuk sebuah wadah pendidikan yang inklusif bagi semua peserta didik. “Berbekal inisiatif-inisiatif yang sudah mulai dilakukan oleh beberapa lembaga pendidikan tinggi, saya mengajak agar mulai dipikirkan sebuah sistem yang inklusif yang benar-benar berusaha memberikan layanan pendidikan yang adil, bukan hanya bagi difabel melainkan bagi setiap warga negara yang berhak atas pendidikan,” pungkasnya.

up