Belajar dari Gusdur : "PR dengan Hati"

about "Public Relations Oriented" (PRO)
Public Relations Oriented (PRO) sebagai komunitas mahasiswa konsentrasi PR merupakan wadah bagi semua mahasiswa komunikasi, khususnya PR, yang berminat untuk terjun total dalam mendalami seluk beluk tentang dunia PR. Meski baru berjalan beberapa tahun, komunitas yang berdiri sejak tahun 2007 ini telah berhasil membuktikan eksistensinya di prodi Ilmu Komunikasi.

Estafet kepemimpinan yang berganti tiap satu kali periode, yaitu dalam kurun waktu satu tahun, menunjukan fluktuasi yang beragam. 
Berdiri tahun 2007, namun baru diresmikan pada 14 Februari 2010 yang saat itu kepengurusan 2008-2009 dijabat oleh angkatan 2008 salah satunya yaitu Faizah. Penggagas PR yaitu Dra. Marfuah S. S, M. Si, awalnya PRO didirikan dengan tujuan untuk memaksimalkan laboratorium PR. 
Laboratorium PR digunakan mahasiswa untuk mengaplikasikan mata kuliah public speaking, pengembangan kepribadian, teknik presentasi dan negoisasi, dan mata kuliah yang relevan. Prasarana yang disediakan antara lain media presentasi, table manner, LCD, dan prasarana pendukung praktek press release dan press conference. 
Pada tahun ini, adanya kepengurusan baru membuat nafas PRO semakin bergairah. Terpilihnya Drara Novia D. A sebagai ketua PRO periode 2011-2012 dengan program-program yang diajukkannya diharapkan mampu membuat gebrakkan baru. Mewujudkan “the original of PR” yang sebelumnya telah digagas oleh angkatan terdahulu.
The Oryginal of PR beranjak dari keinginan untuk menjadi PR yang bekerja dengan hati. Adanya stereotip tentang PR yang (katanya) selalu menciptakan sesuatu atau keadaan sebagai pencitraan saja alias palsu. PRO ingin mewujudkannya dengan langkah awal yaitu “Jujur”, mengatakan kebenaran dalam konteks yang sesuai. Dalam arti PR berkata jujur, pandai mengolah informasi yang baik untuk diceritakan, namun tidak menutup-nutupinya. Komunikasi dalam PR tidak semudah yang kita kira, dibutuhkan manajemen berpikir yang cerdas. Dari hal itu, awali dari sendiri untuk belajar berkomunikasi yang baik dan jujur.

Artikel : Nasib Buku di Era Digital 'Dari Sekadar Pajangan Hingga Bajakan'


Akademia, 03 September...

Dalam tradisi ilmu pengetahuan, buku merupakan jembatan bagi tersampainya sebuah gagasan, penemuan, ataupun keilmuan kepada khalayak tanpa harus ada pertemuan fisik dengan penemunya (ilmuan). Lewat buku, tanpa dialog langsung orang bisa memahami suatu gagasan dari orang lain. Buku menjadi pintu gerbang dimana jalan menuju pemahaman tentang keilmuan terbentang lebar dihadapannya. Sehingga keberadaanhyfnya dalam menunjang kemajuan ilmu pengetahuan mutlak adanya.
Sejak puluhan abad yang lalu, para pemikir pun telah menggunakan buku sebagai wahana dialog dan “museum” pemikiran-pemikiranya. Aristoteles, Plato, adalah nama-nama yang hidup sekitar tahun 300 SM. Tapi, hingga kini kita masih bisa merasakan gaung pemikiran-pemikiranya. Itu tidak lain adalah karena buku. Begitu pentingnya buku hingga seorang bijak mengatakan, untuk menghancurkan suatu bangsa tidak perlu memerangi bangsa itu, cukup larang mereka membaca buku, maka kehancuran akan sendirinya menghampiri bangsa itu. Tapi masalahnya sekarang, sudahkah kita menyadari hal itu?
Dalam penelusuran yang dilakukan Tim Akademia UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, ada beberapa temuan menarik seputar permasalahan minat baca mahasiswa di Yogyakarta. Dalam satu kasus, Tim UIN menemukan adanya indikasi buku mulai digunakan sebagai penunjang gengsi.
Salah satunya adalah Muh. Muhlisin. Mahasiswa Sejarah Kebudayaan Islam Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta menyatakan, sebagian besar mahasiswa ada yang belum sadar pentingnya buku. “Mahasiswa cenderung malas untuk membaca. Untuk membeli buku memang rajin, tapi setelah dibeli hanya ditaruh. Ya, Agar dikira orang pintar saja,” ujarnya.
Pengakuan senada juga keluar dari Rika. Mahasiswi Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan A. Yani Yogyakarta ini mengaku, dirinya tidak terlalu gemar membaca buku. Kesadaran pentingnya membaca memang ada, sayangnya kesadaran itu tidak dibarengi dengan minat untuk membaca. “Saya sendiri sudah berusaha untuk menumbuhkan minat baca saya dengan menarget minimal dua kali membaca buku dalam seminggu. Tapi kenyataannya, sampai sekarang masih belum kesampaian. Waktu luang yang ada lebih saya gunakan untuk berkumpul dan ngobrol bersama teman-teman,” akunya.
Bagi sebagian orang, bertambah ataupun menurunnya minat baca mahasiswa memang tidak begitu dirasa. Tapi bagi Masril, hal itu sangat berdampak baginya. Pria yang membuka toko buku di Komplek Taman Pintar Yogyakarta ini mengungkapkan, dulu waktu tahun 90-an minat baca bisa dikatakan cukup tinggi. Kesadaran masyarakat akan pentingnya buku lumayan tinggi. Tapi, memasuki tahun 2000-an, minat baca cenderung turun. “Tapi sebenarnya Ya naik-turun. Fluktuatif kayak gitu,” akunya. Hal serupa juga dirasakan Muh. Taufiq. Pria yang telah merintis usaha toko bukunya sejak 1998 ini mengaku, dari tahun ke tahun omset penjualan bukunya cenderung menurun. “Ya ini karena banyak hal. Bisa masalah tempat, atau juga masalah minat baca masyarakatnya,” ujarnya.

Bajakan
            Pertanyaannya, apa sebenarnya yang menyebabkan menurunnya minat baca mahasiswa? Menurut Acep Maltas Mawardi, pimpinan salah satu penerbit dan distributor ini menyatakan, banyak hal yang menyebabkan turunnya minat baca. Diantaranya adalah buku bukan merupakan kebutuhan pokok seperti makanan, yang jika tidak dipenuhi kita akan mati. Sehingga, sebagian besar masyarakat tidak begitu menganggapnya penting.
Selain itu, menurut Acep, maraknya kasus-kasus pembajakan sebenarnya juga sangat berpengaruh terhadap minat baca. “Hubungannya pada penerbit. Ketika buku-buku dibajak, maka penerbit pun akan merasakan dampaknya. Masyarakat lebih suka beli yang bajakan karena lebih murah, sehingga penerbit pun omsetnya menurun dan dampaknya lama-lama ia akan bangkrut dan tutup. Kalau satu penerbit tutup, berarti satu sumber ilmu telah buntu,” jelasnya.
            Selain faktor-faktor di atas, faktor lain seperti perkembangan teknologi digital sebenarnya juga berpengaruh besar. Munculnya teknologi digital yang seharusnya memberi dampak positif bagi perkembangan minat baca ternyata berbalik. Dengan digitalisasi, masyarakat dapat lebih mudah menemukan buku bacaan di internet. “Tapi sayang perkembangan ini tidak dibarengi dengan kesadaran. Sehingga, keberadaan buku digital atau e-book pun sia-sia,” ujarnya.
            Muhammad, pemerhati kepustakaan di Lembaga Kajian Kutub Yogyakarta menyatakan, perkembangan dunia buku memang sejak dulu timbul tenggelam. Banyak penerbit yang terkadang asal cetak tapi tidak tahu pasarnya dulu. “Ini berpengaruh pada kelangsungan penerbit tersebut,” ungkapnya. Disamping itu, lanjutnya, ketegasan hukum di negara ini juga tidak pernah benar-benar ditegakkan. Tingginya biaya produksi penerbit tidak dibarengi dengan pengamanan yang ketat. Pembajakan dibiarkan tanpa ada tindakan yang nyata. “Padahal itu kan jelas-jelas melanggar hukum, tapi kenapa hanya didiamkan?” gugatnya.

Artikel : Koleksi Buku, dari Hobi Menjadi Bisnis

Akademia edisi 29 Oktober ...

Buku adalah jendela dunia yang dapat menambah pengetahuan dan wawasan seseorang.  Buku membantu kita dalam segala hal tentang pengetahuan . Misalnya saja, dengan buku kita dapat berwisata tanpa harus mendatangi dan mengunjungi  suatu tempat, cukup dengan membaca, memahami dan menikmati isi yang ada di buku. Dengan buku semua hal yang ingin kita ketahui dapat kita peroleh dengan mencari referensi atau judul buku yang kita butuhkan.
Kegiatan membaca dan membeli buku tidak menutup kemungkinan berubah menjadi hobi mengoleksi buku. Dari buku yang sebelumnya hanya  iseng-iseng beli satu per satu untuk dibaca  sendiri, lama-kelamaan  terus bertambah. Setelah koleksi bertambah banyak, apa yang harus dilakukan dengan buku-buku tersebut?
Buku-buku yang tidak terpakai, bisa saja didonasikan atau diberikan kepada pihak lain yang membutuhkan, misalnya perpustakaan desa, atau perpustakaan anak-anak yang tidak mampu. Akan tetapi, jika koleksi buku dianggap sayang untuk didonasikan, bisa saja disusun atau diarahkan menjadi semacam perpustakaan pribadi.
Untuk membuat perpustakaan pribadi, buku bukan hanya dikumpulkan dan ditata rapi dalam suatu ruangan, tetapi memerlukan pengelolaan sendiri. Di dalamnya termasuk cara merawat buku dan identifikasi agar memudahkan ketika kita membutuhkannya.
Hekmi, mahasiswa S1 Jurusan Ilmu Perpustakaan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta menyarankan untuk merawat koleksi buku dengan manajemen perpustakaan mini, misalnya dengan meyusun buku dalam rak khusus. “Kalau bisa, raknya lebih tinggi dari lantai supaya tidak lembab dan mudah rusak, dan tidak dijangkau oleh anak kecil,” katanya. Ia menambahkan agar buku disampul dengan plastik supaya tidak mudah kotor dan terkena debu.  Hal lain yang tak kalah penting, adalah membuat katalog untuk mengidentifikasi jenis buku, ”Katalog diperlukan agar lebih mudah ketika mencari sebuah buku,” tambahnya.

Bisnis
Tidak sedikit pencinta buku yang ingin berbagi, sehingga terkadang banyak yang menyalurkan hobinya ini dengan meminjamkan bukunya. Bahkan ada yang kemudian melihatnya sebagai peluang bisnis, yakni dengan membuka persewaan atau rental buku.
Untuk memulai bisnis persewaan buku, bisa diawali dengan pengelolaan sederhana. Hekmi mencontohkan, bila ada yang meminjam, ia menyarankan agar si peminjam meninggalkan identitas dan memberi tenggang waktu pengembalian, “Kalau masa tenggang sudah lewat, beri toleransi waktu selama tiga hari,” ujarnya. Ketika buku yang dipinjamkan  sudah melewati batas tenggang, buku harus diambil ke alamat atau tempat tinggal peminjam, “Bila perlu berikan sanksi berupa denda kepada peminjam, misalnya Rp. 500 per  buku dan dihitung per hari,” pungkasnya.
Lain halnya dengan Zamiratul Laely yang sudah menekuni bisnis persewaan buku ini dengan lebih serius. Ia mengaku, bisnisnya dimulai dari hobi membaca dan mengoleksi buku. Siapa sangka yang tadinya hanya membeli buku – buku bacaan untuk sekedar hiburan dan mengisi waktu luang, berubah menjadi bisnis yang menjanjikan. Koleksi buku-bukunya, seperti buku fiksi, non fiksi, antologi cerpen, puisi, humor, prosa dan lain-lain disewakan kepada teman-temannya dari ruangan kost yang diubahnya menjadi tempat persewaan, “Antusias penyewa lumayan cukup banyak,” ujarnya.
Awlanya memang tidak mudah dalam menjalankan persewaan bukunya. Kendala yang dihadapi antara lain para peminjam yang tidak tepat waktu dalam mengembalikan buku atau kurangnya koleksi buku yang dimilikinya. Tapi menurutnya, kendala itu tidak menjadi halangan, “Penyewaan buku yang besar saja masih ada kendalanya, apalagi seperti saya yang baru memulai membuka penyewaan buku” kata pemilik persewaan buku Zamie ini.
Sementara itu M. Shalahudin, pemilik rental buku di kawasan Sapen, Demangan, Gondokusuman, Yogyakarta punya alasan lain. Ia membuka rental buku karena menurutnya buku merupakan sumber referensi tertulis yang legal diakui dalam dunia akademis. Oleh karena itu ia tetap optimis rental bukunya tetap eksis ditengah gencarnya arus teknologi informasi seperti internet. Menurutnya, perpustakaan kecil seperti rental buku tidak lantas kehilangan peminatnya. Masih banyak rental buku yang tetap diminati oleh mahasiswa untuk mencari referensi tugas kampus. “Mahasiswa masih banyak yang membutuhkan referensi buku selain yang berasal dari perpustakaan,” kata pemilik rental buku ‘Al Fathin’ ini.
Hal ini dibenarkan oleh M. Rezansyah, bahwa feel dalam mencari ilmu tetap ada pada buku. Entah itu buku yang dipinjam dari perpustakaan maupun buku yang disewa. “Berbeda rasanya apabila belajar di depan komputer dengan langsung dari buku sebagai sumber ilmu. Makanya, saya tetap lebih suka membaca buku, baik yang dipinjam dari perpustakaan, maupun dari rental buku,” kata mahasiswa jurusan teknik elekto UGM ini.
Sulistyantoro Pangarso, menanggapi positif keberadaan persewaan buku tersebut. Menurutnya, dengan adanya tempat penyewaan atau rental buku ini dapat membantu mahasiswa dalam memperoleh referensi buku tambahan yang didapat selain dari perpustakaan. “Apalagi jika persewaan tersebut berada di daerah yang jauh dari perpustakaan atau akses internet,” kata Wakil Kepala Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Hanya saja, Sulistyantoro menyarankan adanya kontrol terhadap persewaan semacam ini, terutama terhadap peminjam dari kalangan anak-anak, “Jangan sampai anak kecil bisa meminjam buku bacaan yang sebetulnya untuk orang dewasa!” tutupnya. 

Cerpen: "Dialog di Musim KKN"

“Ara, aku sudah di tempat nih? Kamu yang kaya apa sih?,”
“Aku pakai jilbab hijau dan tas warna hijau dengan motif bunga. Kamu dimana? Pakai baju warna apa?”
“Aku di bawah tangga pintu keluar sebelah timur, aku pakai baju batik warna coklat. Aku bareng temenku cewek pakai kerudung ungu muda.”
“oke deh, aku samperin kesana ya...”
“sipp..”
---

Kira-kira begitulah percakapan yang terjadi selama masa awal KKN. Saling mencari, saling mengenal dan saling mengisi. Itu semua karena sebelumnya memang kita belum saling mengenal satu sama lain. Hanya nama yang terpampang di papan pengumuman yang menjadi awal perkenalan. Penasaran? Tentu, semua pasti merasa penasaran ketika hanya mengenal nama bukan raga yang nyata. Kita pasti bertanya-tanya, “seperti apa orangnya? Apakah orang itu mampu menjadi Tim kita yang solid? Apakah orang itu pandai bergaul? Bagaimanakah sifatnya? Apa aku bisa berteman dengannya?,” Berbagai pertanyaan pasti muncul di benak kita. Kita pasti berharap mendapat teman yang asyik, kocak dan kompak. Tapi inilah kehidupan. Penuh misteri. kita hanya bisa menebak, meminta dan berdoa agar mendapat teman seperti keinginan kita. Tanpa tau kenyataan di depan akan berjalan seperti apa.

Sobat, ini adalah kisah yang aku buat selama aku mengikuti kegiatan KKN di sebuah Universitas Negeri di kota yang terkenal dengan sebutan Kota Pendidikan. Yogyakarta.
---
Denyit Handphone mengusik kosentrasiku yang sedang asyik menulis. “Ra, ke kampus yuk ambil buku panduan KKN sekalian lihat lokasi penempatan KKN kita..” Ku lirik jam yang menunjukkan pukul 08.45. “Jam berapa wiek? Ayok, mumpung hari ini Ara free..” Balas ku meng-iya-kan. “Jam 10.00 ya, nanti Tiwik jemput deh,” “Siap Wiek, habis ini Ara mandi terus siap-siap ya. Ara masih harus slesein tulisan nih,” “Okke Ra, Tiwik juga mau siap-siap dulu, sampai nanti”. Aku bergegas mandi setelah menyelesaikan artikel yang akan aku kirim ke media. Aku berdandan secukupnya dan mulai menyiapkan berkas KKN yang harus aku bawa. Waktu berjalan cepat, Tiwik sudah menungguku di depan rumah.

“Ra kamu dapat tempat KKN dimana?,” ujar Tiwik setelah mendapatkan namanya tertulis di lokasi KKN kota Sleman. “Belum tau Wiek, Ara sudah cari sampai muter tiga kali tapi nggak ada nama Ara disana, Ara kok jadi khawatir ya Wiek? Masa nama Ara sampai nggak tercatat?!,” keluhku dengan mimik cemberut. Tiwik pun ikut membantu mencarikan namaku di setiap carik kertas yang tertempel di papan pengumuman. “Ternyata di Desa Maju Makmur (bukan nama yang sebenarnya) Wiek!!,” jeritku sambil terlonjak bahagia. “Mana?,”ujar Tiwik merapat kearahku. “Nggak ada nama kamu kok Ra, yang mana?,” tambahnya setelah lama mencari. Aku yang masih sibuk dengan Handphone di tanganku, menoleh kearahnya. “Bukan Ara Wik, tapi dia.” Ujarku tersipu sambil mengarahkan telunjukku kearah nama orang yang dulu lama mengisi ruang hidupku. ‘huffffffff, sorry Wik’ desahku panjang. Tiwik tersenyum dan menepuk bahuku. “Sudahlah Ra, mau sampai kapan kamu begini? Ayo Ra, fokus sama kuliah kamu. Terutama KKN yang sudah di depan mata kita,” ”Tapi Wik.....” “Sssstt. Udah Ra, kamu belum dapat nama kamu lho, ayo kita cari sekali lagi.” Tiwik melanjutkan mencari namaku. Akupun mengikutinya.

“Wikk, disini ada namaku!!!,” Ujarku sambil melambaikan tangan ke arahnya. Tiwik mendekat, ikut memastikan namaku tercatat disana. “ya ampun Ra, ini benar-benar di desa, bahkan bisa dibilang ini di pelosok desa..Hahahahha.” tawa renyah Tiwik memecah keheningan ruang pengumuman itu. Aku pun ikut tertawa dibuatnya. “nggak papa Wik, untuk pengalaman ini. Toh, kemaren aku juga yang minta ditempatin di desa.” Tiwik masih terlihat menahan tawanya. Ruang pengumuman mulai ramai ketika aku dan Tiwik memutuskan untuk pulang.

Di tengah perjalanan, Tiwik berpamitan padaku untuk pulang duluan karena ada janji yang harus dia tepati. Aku meng-iya-kannya dan berjalan seorang diri. Dengan malas aku berjalan menuruni tangga untuk sampai kelantai dasar. Merenung untuk beberapa saat. Ku sandarkan tubuh ini pada sebuah tiang yang berdiri kokoh di sudut atas tangga. ‘Ternyata Tuhan memang tak mengizinkan kita bersama. Apakah memang sebaiknya berjalan seperti ini? Apa memang yang terbaik aku tak lagi berada di sampingmu? Tapi mengapa sampai detik ini aku tak mampu? Aku tak jua bisa menepis bayangmu dari kehidupanku. Tuhan, kuatkan aku, lindungi aku...’ ku ayunkan kaki ini melewati lorong-lorong sempit di kantor yang dulu merupakan gedung utama kampus ini. Berjalan sambil mendengarkan alunan musik lewat Headset yang aku sambungkan lewat Handphone ku.

“Araaaaa!!!kamu KKN dimana nih? Wahh,, thank’s ya udah BBM aku tempat dan kelompokku.” Teriakkan di depan sana membuatku bergegas melepas Headset di telinga. Meli dan dua sahabatnya memelukku. Aku tersenyum membalas pelukannya. Sebelum pulang tadi memang aku sempatkan mengirim pesan BBM kepada semua temanku tentang lokasi dan tempat KKN mereka. Termasuk Dia. Dia yang datang bersama dua temanku yang kebetulan satu kelas dengannya. Namun, dia hanya melihatku tanpa senyuman. Seolah aku adalah orang asing yang belum dia kenali.

Aku mendesah pelan dan berusaha membuka percakapan. “Ara KKN di desa Jaya Dipa (bukan nama sebenarnya), o ya selamat ya kalian dapat tempat yang sama di desa Maju Makmur, yaa walaupun nggak satu tempat tapi setidaknya kalian satu desa.” Ujarku menatap hangat mereka. Dia masih membisu ditengah keramaian yang mulai terasa memadat pagi ini. “kamu lihatnya dimana Ra?,” seru Tya penasaran. Matanya membelalak seolah memintaku untuk segera menjawabnya. “Di lantai atas jeng, kesana saja. Di pastikan lagi nama-nama yang aku kirim benar-benar nama kalian atau bukan,” Ujarku sambil menunjuk kearah atas. Tiba-tiba mataku tertuju pada mimiknya yang seolah ingin mengatakan ‘ayo kita pergi dari sini!!’. Akupun bersiap untuk meninggalkan mereka. Namun, di depan sana ada satu wanita yang memanggil hangat dirinya. “Mas, kamu dapat lokasi KKN dimana?” ujar wanita itu sambil melingkarkan tangan ke bahunya. Aku tak menyangka, dia menoleh ke arahnya, tersenyum dan berkata “Dihatimu beb.”JLEBBBB!!!’ seketika aku benar-benar terlempar oleh kata-kata itu. Aku benar-benar tak percaya kalimat itu yang akan meluncur dari mulutnya. ‘Orang yang sampai saat ini masih meraja di fikiranku, secepat itukah dia melupakan tentang aku?’. Aku berpamitan pulang dan terus mengayunkan kaki ini menjauh darinya.
---
Musim kemarau ini membuat seluruh peserta KKN terutama yang ditempatkan di desa sepertiku merasa cemas. Banyak yang mengeluh takut tak tersedia air bersih disana, sampai hal-hal kecil yang aku fikir sebenarnya mereka bisa mengatasinya. Hanya saja, mereka belum terjun langsung ke daerahnya. Tapi cukup seru!! terlebih disaat pembekalan hari pertama, kita selalu ditakut-takuti oleh pemateri tentang batu karang yang akan menghadang kita selama terjun di lokasi KKN. Mulai dari tak tersedia air bersih, WC pribadi, masyarakat yang rewel hingga kasus percintaan yang turut mewarnai seni dalam KKN. Well, sebuah pemateri yang cukup lucu. Terutama jika ia mulai memplesetkan makna KKN yang sebenarnya menjadi Kisah Kasih Nyata. Kalimat itu membuatku berdecak tak mengerti di buatnya. 

Pembekalan hari pertama aku lalui tanpa semangat. Entahlah, mungkin karena aku terlalu takut dia mendapat kelompok KKN yang bisa memikat hatinya. ‘Heyyy!!!siapa lo...’ jerit hatiku selalu mencoba untuk lepas dari bayangnya. Tapi beginilah perasaan. Dia memiliki kehidupannya sendiri. Bahkan kita tak mampu untuk menghalanginya. Sejauh apapun aku mencoba untuk menyangkal pada diri sendiri, toh kenyataanya aku memang belum bisa melepas bayangnya yang kian membawaku pada sisi yang begitu terjal. Aku bahkan tak tau lagi apakah aku masih bisa mencintai lelaki seperti aku mencintainya!?

Pembekalan hari kedua, aku mulai mencari tau teman-teman KKN yang satu kelompok dengan ku. Setelah berhasil mengumpulkan nomor yang bisa aku hubungi, satu persatu dari mereka aku ajak untuk bertemu di selasar gedung tempat kami mendapat materi KKN.

“Pagi teman-teman, saya Ara, mahasiswa Ilmu Komunikasi yang KKN di desa Jaya Dipa. Nanti setelah pembekalan ini selesai kita kumpul ya di selasar gedung sebelah timur. Konfirmasi ya kalau sudah sampai di tempat. Ara sudah Standbye di sini. Tolong call Ara lagi ya kalau nggak ketemu. Terimakasih,” segera ku kirim pesan itu kebeberapa nomor yang sudah aku simpan di kontak Handphoneku. “Hupppfffhhhh... Akhirnya mereka menjawab.” gumamku lirih sambil membalas satu per satu pesan masuk mereka. 30 menit aku menunggu mereka muncul dihadapanku. Namun NIHIL. Nampaknya mereka terlalu kesusahan untuk menemukan keberadaanku. Maklum saja, karna memang hari ini seluruh mahasiswa di wajibkan mengenakan Jas Almamater. Untuk para mahasiswi, hanya kerudung yang bisa menjadi ciri yang paling menonjol untuk tanda pengenal. sama halnya denganku.

“Ara, aku sudah di tempat nih? Kamu yang kaya apa sih?,”
“Aku pakai jilbab hijau dan tas warna hijau dengan motif bunga. Kamu dimana? Pakai baju warna apa?”
“Aku di bawah tangga pintu keluar sebelah timur, aku pakai baju batik warna coklat. Aku bareng temenku cewek pakai kerudung ungu muda.”
“oke deh, aku samperin kesana ya...”
“sipp..”

Begitulah caraku menemukan 9 anggota kelompokku. Ketika semua berkumpul, aku begitu bersyukur mendapat kelompok se-rame ini. Bahkan saking ramenya, banyak kelompok lain yang melihat kearah kami. Malah ada yang meminta untuk bertukar tempat. Semoga kekompakan ini benar-benar akan berjalan seperti ini. Di pertemuan pertama kami, mula-mula kami menyusun pengurus harian yaitu Ketua, Sekretaris dan Bendahara. Dan betapa kagetnya aku ketika aku terpilih untuk menjadi Ketua dalam kelompok ini. “ini bukan pekerjaan yang mudah! Kenapa nggak yang cowok aja sih yang dipilih! Aduuuh,, mas nya aja deh yang jadi Ketua, masa cewek mimpin cowok!!” berbagai alasan aku lempar ke forum agar aku tidak jadi terpilih sebagai Ketua kelompok. Tapi tetap saja, dengan enteng mereka menjawab. “Cuma satu suara Ra yang nggak milih kamu. Dan itu kamu sendiri. Kan kita semua pilih kamu. Hahahaha,” ujar mereka, tertawa sembari meyakinkanku. “ Kamu pasti bisa Ra, tenang saja pasti kita bantu kok. Kamu nggak sendirian.” Ujar Susi, salah satu teman KKN ku.

O ia, biar lebih akrab aku kenalin temanku satu persatu ya... Yang paling dekat denganku adalah Lilis, gadis asal Pati ini memang sudah aku kenal akrab dari semester I dulu. Itupun karena aku masuk Vocal Group di kampusku. Dia aku tunjuk sebagai seksi konsumsi di kelompokku. Selanjutnya, Susi. Gadis asli Jogja yang baru pertama kali aku kenal ini, cukup energic dan cantik. Dia menjabat sebagai Bendahara. Kemudian ada Yosi sang KorLap, Toing pak sekretarisku, Viki, Ika, Ardi, Norma dan Risma. Aku harap kelompok ini akan terus hangat dibawah naunganku. Aku juga berharap, program kerja yang akan kita laksanakan dilokasi KKN nanti akan berjalan lancar dengan dukungan masyarakat setempat. Amien

To Be Continue....^_^

Goodbye

a Song to My Feeling...:((

I can see the pain living in your eyes
And I know how hard you try
You deserve to have so much more
I can feel your heart and I sympathize
And I'll never criticize all you've ever meant to my life

[Chorus:]
I don't want to let you down
I don't want to lead you on
I don't want to hold you back
From where you might belong

You would never ask me why
My heart is so disguised
I just can't live a lie anymore
I would rather hurt myself
Than to ever make you cry
There's nothing left to say but good-bye
You deserve the chance at the kind of love
I'm not sure I'm worthy of
Losing you is painful to me

[Chorus]

You would never ask me why
My heart is so disguised
I just can't live a lie anymore
I would rather hurt myself
Than to ever make you cry
There's nothing left to try
Though it's gonna hurt us both
There's no other way than to say good-bye

Cerpen: Antara Kau, Cinta dan Egoku..

Aku tersandar pada sebuah kursi rotan yang mulai rapuh termakan waktu. Memandang dari jauh bintang yang terus berkedip tanpa jeda. Cahaya lampu yang sedaritadi menerangiku dengan berani, mulai mengantuk nampaknya. Sinarnya meredup seia dengan perasaanku. Entahlah, malam selalu membuatku ingin tetap terjaga. Jika ku hitung mundur, seharian ini aku habiskan waktuku dengan kesibukan kampus yang begitu padat. Bukan dalam bidang akademis, namun karena terlalu banyak organisasi yang aku ikuti. ‘Seorang aktivis kampus’, begitu yang selalu teman-teman katakan tentang aku. 

“huuffff,” desahku pelan. Ada beban yang teramat berat mengganjal didinding hati ini. Butir yang semula hanya serupa kabut tipis disudut mataku, perlahan mengalir dengan emosi, menjebol hingga keluar dengan paksa. Aku menangis sejadi-jadinya. Entah, aku tak pernah berpikir akan malu dilihat siapa pun. Toh, siapa yang masih terbangun di malam yang hampir menunjukan pukul dua belas. Beban dihati ini sedikit terbayar dengan isakanku. Malam semakin membuatku terbuai dalam kisah klasik masa laluku. 

 “Aku nggak suka kamu terlalu sibuk dengan kegiatanmu dan mulai mengabaikanku ra!,” Bentaknya dengan penuh emosi. 

 “Ah, kamu selalu saja membahas masalah ini. Aku hanya tak ingin waktu yang aku miliki terbuang sia-sia. Apa salah? Aku ingin belajar bersosialisasi dengan lingkungan mulai dari hal kecil. Aku menemukanya disini dy,” jelasku dengan mimik wajah menahan emosi. 

 “Aku tau ra, tapi bukan berarti semua waktu yang kamu punya hanya kamu habiskan untuk kegiatan kampus yang kamu geluti itu. Kamu bahkan nggak ada waktu lagi untuk kita. Please ra, aku ingin kamu kembali menjadi sosok ara yang aku kenal dulu, sosok ara yang selalu ada saat aku butuh, ara yang bisa membuatku semangat hidup seperti dulu. Bukan seperti ini! Kamu jelas-jelas menduakanku dengan kegiatan kampusmu itu. Aku begitu merindukan saat-saat indah kita dulu ra,” emosinya mulai mereda, suaranya melemah saat mengucapkan kalimat terakhir dengan tatapan mata mengarah tapat di depan bola mataku. Jemarinya menggenggam tanganku erat. 

 Lama aku terdiam membalas tatapannya. Mata itu, sorot mata yang membuatku jatuh cinta untuk pertama kalinya dengan seorang lelaki. Tatapan yang begitu hangat dan mampu membuatku nyaman disampingnya. “ Maaf dy, aku nggak bisa meninggalkan kegiatanku sekarang. Aku sudah terlanjur masuk dan harus mempertahankan komitmenku. Hidupku ada dalam nadi organisasi itu. Aku sangat menyayangimu dan aku yakin kamu tau itu. Aku sama sekali nggak bermaksud menduakanmu dengan semua ini, tapi aku benar-benar tak bisa meninggalkan kegiatanku saat ini dy,” ujarku pada Ardy, seseorang yang hampir dua tahun ini menjadi bagian dari hidupku. 

 “Oke kalau kamu tetap pada keputusanmu! Lebih baik aku yang ngalah sekarang, aku yang akan mundur dan pergi dari kehidupanmu,” tukasnya sambil berlalu pergi. 

Aku terdiam mendengar ucapan yang meluncur dari bibirnya. Mulut ini terkunci untuk sekedar menahannya pergi. Sayup-sayup kudengar langkahnya yang memburu. Hanya berharap dia kembali, namun dia tetap melangkah dan menghilang. 

Aku menghela nafas panjang. Kejadian itu memang sudah sebulan yang lalu. Namun jejaknya masih terekam jelas di alam bawah sadarku. Aku yang tak mampu memilih dua hal yang sama-sama aku butuhkan. “Semua sudah terlambat,” gumamku menerawang jauh pada langit yang mulai berkabut. Lagi-lagi, air mata ini mengalir deras untuk kesekian kalinya. Namun, aku tetap tegar dalam sandaran. Angin tiada berhenti untuk berhembus. Entah, apakah ia ingin mengusik atau menghibur kegalauan ini. Sedangkan bintang di malam ini, tetap saja pada porosnya. Berkadap-kedip mencoba menggodaku dengan manja. 

Tiba-tiba, suara jangrik menghentikan tetesan air mataku. Krik…krik…,. Ah, aku tak tahu apa yang sedang terjadi pada hatiku, sakit sekali rasanya. Pertengkaran itukah? Atau kerinduanku yang mendalam pada lelaki itu? Entahlah,
aku hanya mencoba bertahan dengan serpihan masa lalu yang telah dia torehkan. Mencoba kembali menjalani hari dengan rentetan tugas yang telah terangkum didepan mata. Meski tertatih-tatih, aku akan tetap setegar batu karang. 

Tanpa sadar, butiran air mata yang sempat mengering kembali membasahi tanah pipi. Teringat sebuah kalimat yang selalu diucapkannya ketika aku mulai jenuh atas kehadirannya. “ Jangan pernah melihat keberadaanku, aku hanya lelaki yang ingin terus peduli padamu”. Air mata ini kembali tak terbendung. Dimana kau kini? Mengapa secepat itu kau memilih untuk pergi? Aku rindu padamu. Sangat rindu. Namun sepertinya mustahil kita berdua bisa bertemu dan kembali seperti dahulu. 

Bulan separuh malam mengintip dari balik awan. Disadarkannya aku dari sebuah kisah masa lalu. Ah, Antara kau, cinta dan ego yang kumiliki, mana yang harus ku utamakan? Apa aku salah dengan pilihanku ini? Entahlah, aku begitu mencintaimu, namun aku tak bisa semudah itu meninggalkan tanggung jawabku atas sejumlah kegiatan yang kini aku ikuti. Aku hanya berusaha mempertahankan egoku untuk tetap pada kesibukanku. Dan kau tak pernah mau mengerti. 

Malam semakin menelanku dalam pekatnya. Aku masih setia tersandar diatas kursi rotan yang masih kuat menopangku untuk duduk lebih lama. Angin masih saja mengusik ketenanganku. Langit malam yang semula bertabur bintang berganti dengan awan kelabu yang menggantung dengan senyumnya. Bibirku bergerak perlahan, mengucap salam terakhir yang sudah sejak lama kutahan. “Good bye dy, maafkan aku yang tak mampu menyempurnakan hidupmu dengan cintaku...”. Aku mendesah panjang. Kupejamkan mataku kuat-kuat. Perlahan rintik-rintik air langit mulai jatuh membasahi dedaunan yang memayungiku. Segera kulangkahkan kaki ini menuju buaian mimpi. Kesibukan telah menantiku di esok hari.  

Karya Asli (Drara Novia D.A)

Release Seminar Motivasi James Gwee

“a Business is a commercially profitable enterprise that works without you”. Demikian dipaparkan oleh James Gwee T.H.,MBA, Trainer dan Motivator Bisnis dalam acara Seminar Motivasi dengan tajuk “Menjadi Pengusaha Sejak Mahasiswa” (28/02). Acara ini merupakan rangkaian akhir dari dua acara sebelumnya yaitu Workshop dengan tema “Merancang Business Plan yang efektif dan efisien” dan Kompetisi Wirausaha “Adu Business Plan paling jos!” yang diselenggarakan pada tanggal 16 dan 25 Februari lalu. Acara yang terselenggara atas kerjasama Program Studi Ilmu Komunikasi dengan Muncul Grup ini, diselenggarakan di Ballroom The Rich Jogja Hotel Yogyakarta.

Acara ini berlangsung selama dua jam dengan quota mahasiswa 500 peserta. Dalam acara ini di umumkan tiga pemenang yang sekaligus akan dibina oleh Muncul Grup untuk merealisasikan usahanya. Adapun tiga dari sepuluh tim yang menjadi pemenang yaitu Tim Stuner Jaya sebagai Juara I, Digital Brain sebagai Juara II dan Koinobori Package Design sebagai Juara III. Saat ditemui, Drs. Bono Setyo M.Si, Kepala Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga menyatakan bahwa ini merupakan Seminar yang sangat luar biasa dengan pemateri yang dapat memberi banyak pengetahuan baru untuk seluruh peserta. “Materi yang disampaikan James Gwee yang begitu dahsyat mampu memotivasi peserta Seminar,” tandasnya.

Oleh :Drara Novia_Ketua PRO

up